Wednesday, November 14, 2007

SEPINTAS Gerakan Wanita Indonesia Dalam Perkembangan Sejarah

Oleh Rusiyati

A. Periode 1945 - 1965

Dengan proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, perjuangan rakyat Indonesia mencapai zaman baru sama sekali, zaman Republik Indonesia, hasil perjuangan rakyat selama tiga abad lebih dalam membebaskan diri dari penjajahan Belanda dan Jepang.

Berbeda dengan pada zaman kolonial memerinci perjuangan wanita dalam berbagai periodisasi, pada zaman baru Republik Indonesia saya tidak lagi menguraikan secara rinci mengenai gerakan wanita diperiode-periode perjuangan wanita melalui Perjuangan Kemerdekaan (1945 ? 1949), Demokrasi Liberal (1950 ? 1959) dan Demokrasi Terpimpin (1960 ? 1965). Karena pada umumnya para Ibu dan Saudara-saudara yang hadir disini telah mengalami sendiri bahkan aktif ikut serta memperjuangkan menegakkan serta mempertahankan Republik kita. Justru saya mengharapkan pertemuan seperti ini dilanjutkan, dimana kita bisa saling belajar dari pengalaman-pengalaman berharga para hadirin yang pasti akan sangat memperkaya pengalaman dan pelajaran bagi perjuangan kita selanjutnya.

Dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno - Hatta, tidaklah berarti bahwa kita sudah mencapai tujuan kemerdekaan rakyat Indonesia, tetapi baru merupakan jembatan emas untuk menuju kebebasan dan kemakmuran rakyat, seperti selalu didengungkan oleh pejuang kemerdekaan Sukarno. Dan kalau melihat situasi tanahair kita pada dewasa ini, tujuan rakyat masih sangat jauh dari jangkauannya.

Begitu kemerdekaan tanahair diproklamasikan, mulailah bentrokan-bentrokan senjata terjadi dengan fihak tentara pendudukan Jepang, yang diperintah untuk mempertahankan "status quo" sampai waktu mereka menyerahkan kekuasaan pada Sekutu, jadi berarti bahwa nasib bangsa Indonesia masih berada ditangan penjajah Jepang untuk kemudian dioperkan lagi kepada penguasa/penjajah yang baru. Tàpi rakyat Indonesia sudah bertekad bulat membebaskan diri dari kekuasaan asing. Dan dilihat dari semboyan-semboyan pada waktu itu a.l. "Sekali merdeka, tetap merdeka", "lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah", Merdeka atau mati". Tanpa komando, tetapi berdasarkan kesadaran dan keyakinan, seluruh rakyat bergolak mempertahankan kemerdekaan tanahairnya. Demikianlah maka terjadi benturan dengan tentara Jepang dimana ?mana, melucuti tentara yang sudah turun moril (Karena Jepang sudah menyerah balik kepada sekutu), dan dengan demikian pejuang kemerdekaan memikul senjata untuk mempertahankan kemerdekaan tanah airnya.

Tanggal 29 September 1945 Tentara Serikat (Inggris) mendarat di Jakarta, dipimpin Jendral Chris Tisonn. Namun tanggal 1 oktober 1945 Markas Besar Tentara Jepang di Surabaya sudah menyerah kepada Tentara Rakyat Indonesia setelah bertempur antara tentara Jepang dan rakyat. Dengan demikian, pada tanggal 15 oktober 1945 tentara Inggris (dengan Ghurkanya) yang diboncengi tentara Belanda mendarat di Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Medan dan tempat-tempat lain. Mereka diperintahkan oleh tentara Sekutu, yang menang Perang Dunia II (1938-1945), untuk menerima penyerahan dari Jepang. Panglima tentara Inggris mengumumkan bahwa mereka mewakili Sekutu untuk melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan, tidak akan mencampuri soal politik.
Tentara Belanda yang berkedok sebagai tentara Inggris melakukan penembakan-penembakan dan pembunuhan terhadap rakyat Indonesia. Tawanan bekas KNIL (Koninklijke Nederlands-Indische Leger) dipergunakan kembali oleh Belanda untuk melakukan terornya menghadapi menaklukan rakyat Indonesia.

Pertempuran paling dahsyat terjadi di Surabaya pada tanggal 10 November 1945, ketika para pemuda beserta seluruh rakyat Surabaya menolak ultimatum Jendral Mansergh dari tentara Sekutu untuk menyerahkan semua senjata. Awal pecahnya pertempuran ini sekarang dikenal sebagai Hari Pahlawan. Rakyat bertempur pantang menyerah secara sangat heroik melawan tentara Sekuku yang baru keluar sebagai pemenang dari Perang Dunia II. Pada waktu yang bersamaan, 10 November 1945, pemuda-pemuda melangsungkan kongres pertamanya di Jogja menyatakan semangat menyala-nyala akan ikut bertempur di Surabaya selesai kongres, sementara sebagian delegasi Surabaya kembali ke daerahnya.
Pemerintah Indonesia selalu mengusahakan taktik diplomasi dan pertempuran silih berganti. Dalam persetujuan Linggarjati Belanda mengak ui kekuasaan de fakto Republik Indonesia atas Jawa, Madura dan Sumatra.
Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda mengadakan Aksi Polisionil ke-I (istilah Belanda) dan pada 19 Desember 1948 melakukan agresinya ke-II dengan menyerbu Ibukota Republik di Jogya.

Sekedar lukisan suasana untuk menggambarkan perjuangan para wanita pada waktu permulaan Zaman Kemerdekaan. Revolusi Agustus 1945 mendobrak ikatan-ikatan adat dan tradisi yang sebelumnya menghambat gerak maju wanita. Penderitaan dan penghinaan selama penjajahan sudah cukup berat, dan kini, sewaktu revolusi urusan-urusan yang tidak pokok tidak dihiraukan lagi. Seluruh rakyat merasa terpanggil untuk ikut berjuang membela dan mempertahankan kemerdekaan. Organisasi-organisasi wanita pada umumnya di waktu itu mengutamakan usaha-usaha perjuangan, baik di garis belakang dengan mengadakan dapur umum dan pos-pos Palang Merah, maupun di garis depan dengan nama suatu badan perjuangan ma upun tergabung dengan organisasi-organisasi lain. Timbul laskar-laskar wanita; tugas-tugas mereka sangat luas: di garis depan, di medan pertempuran, melakukan kegiatan intel, jadi kurir, menyediakan dan mengirimkan makanan ke garis depan, membawa kaum pengungsi, memberi penerangan dll.

Dalam kesibukan revolusi fisik maupun dalam bidang sosial politik, pergerakan wanita berbenah diri untuk menggalang persatuan yang kuat. Kongres pertama diadakan di Klaten pada bulan Desember 1945, dengan maksud menggalang persatuan dan membentuk badan persatuan. Persatuan Wanita Indonesia (perwani) dan Wanita Negara Indonesia (Wani) dilebur menjadi badan fusi dengan nama Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari).

Pada bulan Februari 1946 di Solo, lahirlah Badan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI). Pada bulan juni 1946 diselenggarakan Kongres Wanita Indonesia di Madiun, yang merupakan Kongres Wanita Indonesia ke -V. Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah untuk menembus blokade ekonomi dan politik, Kongres memutuskan antara lain mulai mengadakan hubungan dengan luarnegeri. Maka dari itu Kongres Wanita Indonesia menjadi anggauta WIDF (Women's International Democratic Federation). Dijiwai oleh tekad untuk ikut serta dalam pembangunan jaringan kerjasama Internasional, mendukung pergerakan wanita selanjutnya menyusun program-program kerja, yang tidak hanya meliputi bidang pembelaan negara, tetapi juga bidang-bidang sosial, politik, pendidikan, dan lain-lain sesuai dengan derap perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik pada waktu itu.

Secara umum arah perkembangan gerakan wanita sampai tahun 1950 telah mencakup paling tidak hal-hal berikut:
1. pertama, sebagai kelanjutan dari kecenderungan pada masa sebelumnya, wawasan dan lingkup perhatian organisasi wanita telah meluas tidak hanya pada masalah dan isue wanita saja, te tapi juga ke bidang-bidang lain seperti politik dan pemerintahan.
2. Kedua,muncullah jenis organisasi wanita yang semakin beragam. Selain organisasi-organisasi yang sudah ada sebelumnya seperti organisasi yang berafiliasi pada partai politik dan organisasi yang berazaskan agama, muncul pula organisasi khusus pada kelompok sosial tertentu seperti dikalangan istri Angkatan Bersenjata, dan organisasi profesi. Selain itu, azas demokrasi yang dipercaya sebagai dasar negara yang baru merdeka juga telah mendorong kaum wanita untuk membentuk partai politik agar kepentinngan kaum wanita juga terwakili dan tersalur.
3. Ketiga, ruang gerak organisasi wanita juga semakin meluas, tidak hanya lokal dan nasional tetapi juga internasional, dengan bergabungnya organisasi-organisasi dalam Kowani dengan WIDF.
4. Keempat,sebagai akibat orientasi gerakan yang diambil, kegiatan organisasi-organisasi wanita juga beragam. Yang terakhir ini paling tidak dapat dipisahkan menjadi dua kelompok besar, pertama organisasi-organisasi yang mendasarkan kegiatannya pada kesejahteraan (welfare) yaitu masalah pendidikan, sosial ekonomi, kewanitaan dan kegiatan karitatif; dan kedua organisasi yang berkonsentrasi pada masalah-masalah politik. Kelompok yang disebut pertama jumlahnya lebih besar dari yang kedua, dan mencakup diantaranya organisasi-organisasi yang tergabung dalam Kowani, organisasi-organisasi yang berazaskan agama, organisasi khusus dan organisasi profesi. Sedangkan yang termasuk kategori kedua yaitu berfokus pada kegiatan politik tidak lebih dari tiga organisasi saja. Di sini terlihat bahwa ciri domestik dan karitatif memang sejak awal telah melekat pada organisasi wanita dan tetap bertahan sebagai ciri utama yang membedakannya dari organisasi massa umum yang didominasi laki-laki.

Sesudah tahun 1950 masalah-masalah politik makin banyak minta perhatia n. Bermacam persoalan yang berkaitan dengan masalah penyusunan kekuatan partai-partai politik. Perhatian masyarakat mulai disita oleh persiapan penyelenggaraan pemilihan umum pertama yang akan diadakan pada tahun 1955.
Makin banyak kegiatan kaum wanita yang ditujukan kepada masalah-masalah politik, mengingat usaha masing-masing aliran politik untuk tampil sebagai pemenang dalam pemilihan umum. Tapi tidak dilupakan juga, masalah rutine sebelumnya seperti memperjuangkan peraturan perkawinan yang tidak merugikan kaum wanita. Organisasi-organisasi yang berafiliasi pada partai politik sibuk membantu partai induknya mempersiapkan diri menghadapi pemilu.
Kegiatan politik para wanita anggauta organisasi-organisasi bagian wanita partai-partai politik mendorong kaumnya kearah kesadaran politik. Tetapi difihak lain masih perlu dipertanyakan sampai dimana kegiatan-kegiatan mereka dalam menangani masalah- masalah yang sifatnya kewanitaan dan karitati f saja diorganisasinya itu.

Jadi perkembangan yang terjadi yalah semakin banyaknya organisasi wanita seprofesi seperti Ikatan Bidan Indonesia (1951), Ikatan Guru Taman kanak-kanak (1951), Perhimpunan Wanita Universitas Indonesia (1957) yang namanya kemudian berobah menjadi Ikatan Sarjana Wanita indonesia dsb. Selain itu, mulai muncul pula organisasi dari para isteri, yang suaminya tergabung dalam organisasi profesi, seperti Persatuan istri insinyur Indonesia (1951), Ikatan istri dokter Indonesia (1954), Ikatan istri wartawan Indonesia (1957 dsb.
Juga dilingkungan jawatan-jawatan dan departemen pemerintah misalnya: Ikatan Wanita Kereta, IKW, Ikatan Istri Kementrian Penerangan dan beberapa lagi.
Organisasi semacam ini lebih bersifat kekeluargaan dan sosial, dibentuk dengan fungsi penunjang profesi dan organisasi profesi suami. Karena itu kegiatan yang dilakukan lebih bersifat perpanjangan peran domestik para isteri te rsebut seperti misalnya menangani urusan konsumsi bagi rapat dan kegiatan kantor suami piknik keluarga, kursus ketrampilan rumahtangga dan kegiatan2 serupa. Selain itu, organisasi semacam ini juga memainkan fungsi kontrol sosial terutama bagi gerak dan tingkah laku sosial para suami.

Sampai tahun 1965 dapat dikatakan bahwa lingkup perhatian dan wawasan kaum wanita cukup luas dan mendunia, disamping merupakan cerminan dari aliran politik ditingkat nasional.

Thursday, November 1, 2007

"Syawal Mob"

Lebaran tahun ini memberikan kesan tersendiri bagi beberapa keluarga home staf KBRI Roma, kenapa? Karena selain merasakan lebaran di negeri yang jauh dari keluarga juga mendapat kehormatan “kunjungan dari Bpk & Ibu Dubes”. Tidak setiap kepala perwakilan berkenan “turun gunung” mengunjungi staf-nya lho…oleh karena itu segala persiapan menjelang kunjungan yang agak mendadak ini (karena KRT Wisma baru memberitahukan kepada keluarga ybs pada malam harinya) cukup seru untuk disimak.

KRT Wisma, mas Ghanis, menelpon pada jam 10 malam bahwa “besok Bapak & Ibu Dubes akan berkunjung ke rumah jam 10 pagi. Bapak dan Ibu tidak makan, hanya minum teh saja”. Ada yang sang istri sudah tertidur karena paginya capek seharian silaturahmi, makan, minum sampe kekenyangan di Wisma. Ada juga yang sudah mau tidur tapi langsung loncat dari tempat tidur dan bikin kue kecil takut gak ada suguhan buat bapak dan ibu besok. Ada pula yang langsung beres-beres rumah, nyingkirin kardus-kardus yang masih berserakan (maklum baru aja buka container pindahan). Yang gak bisa diberesin terpaksa ditutup pake taplak, biar kesannya kaya meja..(jadi banyak meja di rumah).

Paginya, yang belum tau akan ada kunjungan, seperti biasa bangun tidur langsung “nge-net”, tapi begitu dibilang sama sang suami akan ada kunjungan buru-buru bangunin anak-anaknya, mandiin sekalian…biar udah rapi kalau beliau datang. Gak lupa beli bunga buat seger-seger mata dan cake biar gak malu-maluin. Yang semalem udah tau bukan berarti santai-santai, semaleman tidur gak tenang mikirin gimana ya besok? Mau masak apa ya, masak gak disuguhi makan? Sampe ada yang jam 4 pagi udah bangun, tapi mau beres-beres gak enak hati sama tetangga, alias takut di-complain karena berisik geser ini itu. Ada juga yang pagi-pagi udah ke pasar, mau masak seadanya biar kata pengumumannya cuma minum teh. Tapi ada pula ibu yang tenang dan santai “wong katanya bapak dan ibu cuma mau ngeteh aja, ya udah saya siapin teh aja”. Jadi hari itu gak masak apa-apa, karena hari itu ada undangan open house di rumah DCM, yang berarti makan sekeluarga disana, so dapur jadi keliatan bersih dan rapi. Yang udah bikin kue kecil temennya minum teh, eh setelah dicek di lemari dapur, ternyata cangkirnya tak layak saji, buru-buru deh telpon tetangga mau pinjem cangkir.Tapi sang suami tak tega, akhirnya beli baru deh, lumayan jadi punya cangkir baru.


Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, karena KRT bilang ke semua keluarga bahwa bapak dan ibu akan datang pada jam 10, maka ada keluarga yang sudah rapi berbatik ria dari jam 10 pagi, sembari dikit-dikit ngeliatin pintu, nungguin bel, tapi baru dapat kunjungan jam 3 sore..(cape deh…he..he..). Ternyata bapak dan ibu rute-nya dimulai dari daerah EUR, jadi yang belum dapat kunjungan berusaha “dapet bocoran” dari keluarga yang sudah dikunjungi. Open house di rumah DCM jadi ajang cari tau, gimana?, ngapain aja?, ngobrol apa aja?, apa bener cuma minum teh aja? dsb, dll. Tapi dasar yang ditanya juga orangnya jail bin iseng, dibilangnya lah bapak gak cuma minum teh, tapi juga harus disediain minuman lain seperti jus, soft drink, fanta, cola, kue-kue dll. Juga inspeksi ke tiap kamar, ditanyain macem-macem barang di kamar itu. Waduh kok bapak dan ibu haus banget yak..?? Kok sampe mendetail begitu ya untuk silaturahmi aja?? Untung yang cari bocoran gak termakan omongan jail tadi…karena bapak dan ibu emang cuma minum teh dan makan kue kecil aja, biarpun ada juga yang makan siang di rumah salah seorang home staf karena memang saat kunjungan waktunya makan siang, dan sudah disiapkan dengan menu ala kadarnya.


Pada saat undangan makan malam di rumah salah satu keluarga warga Indonesia di Roma jadi ajang curhat tentang persiapan dan kunjungan bapak dan ibu dubes di pagi dan siang hari tadi. Ternyata yang tadinya tegang dan gak bisa tidur malah bisa ketawa-ketiwi, sembari berbagi pengalaman masing-masing ha..ha..ha.. Yang baru beli cangkir ketauan juga sama Bu Dubes, karena begitu dikomentari “wah cangkirnya bagus nih..!” eh malah ngaku kalo baru beli tadi pagi. Ada juga yang merasa “beruntung” karena baru aja pasang sink di dapurnya…maklum berita gak punya sink sudah tersebar se-KBRI, jadi begitu sampe di rumah staf tsb Bu Dubes juga langsung pengen liat, menuju ke dapur…’Untung udah pasang sink…’
Akhir kata, cerita kunjungan ini banyak membawa hikmah, seperti yang tadinya gak punya cangkir, jadi punya, yang tadinya rumahnya berantakan jadi lebih rapi, ada juga yang anaknya jadi punya mainan Lego baru. Dan dengan dikunjungi bapak dan ibu Dubes para home staf mendapat kehormatan besar…terima kasih bapak dan Ibu Dubes. Minal Aidin wal Faidzin…Mohon maaf Lahir dan Bathin.